Thursday, October 05, 2006 9:06 PM

Rezeki di tangan Allah, bagaimana cara menjemputnya sepenuhnya kita yang memilih

Hari ini ternyata harus nginep lagi di kantor. Lagi? iya lah, soalnya malem rabu kemaren udah nginep buat migrasi template simPATI pun sampe sekarang harus nginep lagi karena kerjaan itu belom selesai. Cuma yang untuk yang ini agak surprise juga pas nerima perintah harus nginep, saolnya dari rumah ga siap apa2 (handuk, sikat gigi dll). Terpaksa ngandelin yang nempel di badan deh hehehe..But okelah, kita khan harus berdedikasi pada perusahaan.. jangan kerjanya nuntut kesejahteraan melulu .. :)
Sebenernya salahku juga si knp ga siap hari ini. Kemarin rabu, ketika mo pulang, sebenrnya bos udah bilang kalo malem jum'at harus nginep lagi. Tapi karena capek, ngantuk karena abis begadang, jadi ga "ngeh" deh. Pas hari ini diingetin lagi, malah kaget hehehe. Jadi ga enak juga sama dinda, dia jadi ngambek deh. Maafin ya dinda, namanya juga tugas.

Sebenernya si yang pengen di tulis bukan tentang ini hehehe, tapi sekalian aja ah, abisnya kepikiran sih. Yang pengen aku tulis hari ini adalah kutipan dari pengajian tadi siang. Judul ceramahnya si sebenernya tentang sistem syariah, tapi ada sepenggal hal yang kayaknya "kena" banget dihati, walaupun tadi disampaikan secara singkat.

Bahwasannya rezeki itu mutlak di tangan Allah. Kita tidak bisa menentukan besar rezeki yang akan kita terima. Tapi kita sepenuhnya berkuasa untuk memilih bagimana caranya kita menjemput rezeki itu. Apakah dengan cara haram, ataukah dengan cara halal. Ada dua cerita yang disampaikan ustadz sebagai contoh :

Yang pertama, suatu ketika Ali bin Abi Talib RA dalam perjalanan singgah di suatu mesjid untuk sholat. Dia melihat seorang pemuda sedang duduk di pekarangan mesjid. Lalu Ali berpikir, "Ah, mungkin lebih baik aku mempercayakan keledai yang aku bawa ini kepada pemuda itu disaat aku sholat, lalu setelah sholat aku akan sedekahkan 1 dinar untuknya". Lalu Ali kemudian menitipkan keledainya kepada pemuda tersebut lalu ia pergi sholat. Di saat Ali sedang sholat, ternyata pemuda itu tidak sabar. Maka dicurinyalah cangkang keledai Ali (bingung namanya apa, tapi itu loh alat yang dipakai untuk mengikat tali di mulut keledai atau kuda .. :) ). Lalu dia pergi untuk menjualnya di pasar. Setelah sholat, Ali kaget setelah melihat cangkang keledainya sudah tidak ada lagi, dan dia juga tidak melihat pemuda yang ia titipkan keledai miliknya. Lalu Ali berpikir, pemuda itu mungkin saja mencuri cangkang keledainya dan hendak menjualnya di pasar. Lalu untuk membuktikan kecurigannya tersebut, disuruhlah seorang sahabat untuk mencari kepasar. Ali berkata kepada sahabat itu "Wahai sahabat, pergilah ke pasar, mungkin di sana ada seorang pemuda yang sedang menjual cangkang keledai, kalau ada, belilah dengan harga 1 dinar untukku". Lalu sahabat itu pergi ke pasar dan ternyata benar, ia melihat seorang pemuda sedang menawarkan cangkang keledai. Lalu dibelilah cangkang tersebut seharga 1 dinar dan diberikannya kembali kepada Ali.

Dari cerita yang pertama ini ditunjukkan karena ketidak sabarannya ditunjukkan bahwa pemuda ini lebih memilih mendapat 1 dinar yang haram sebagai rezekinya. Seandainya dia lebih sabar, kelak dia juga akan mendapatkan 1 dinar yang halal untuknya.

Yang kedua, ada dua sekumpulan nelayan yang bekerja mencari ikan di laut. Kumpulan nelayan yang pertama suka berbuat maksiat dan tidak pernah beribadah sedangkan kumpulan nelayan yang kedua nelayan yang taat beribadah. Selama ini ketika mencari ikan, kumpulan nelayan yang suka bermaksiat selalu mendapat ikan yang besar2 dan banyak. Sedangkan nelayan yang taat beribadah mendapat ikan yang kecil2 dan sedikit. Lalu berpikirlah nelayan yang taat beribadah, mengapa rezeki mereka lebih sedikit ketimbang mereka yang suka bermaksiat. Akhirnya nelayan tersebut sepakat, mereka ingin mencoba seandainya mereka juga melakukan maksiat, apakah nasib mereka akan berubah. Lalu kemudian nelayan2 yang taat beribadah itu sedikit demi sedikit lalai dan mulai melakukan maksiat. Sehingga suatu saat mereka mendapatkan ikan yang sangat besar, dan ternyata didalam perut ikan tersebut terdapat mutiara yang indah. Namun tiba2 nelayan2 tersebut menjadi berpikir, apakah rezeki yang mereka dapatkan ini haram atau halal? Setelah mereka berdebat, mereka sepakat bahwa rezeki yang mereka dapat itu haram dan merka memutuskan untk kembali ke jalan yang benar, dan kemudian dibuanglah ikan tersebut. Singkatnya nelayan2 tersebut akhirnya pindah sehingga mereka tidak bersama lagi dengan kumpulan nelayan yang suka bermaksiat dan mencari ikan di bagian laut yang lain. Ternyata setelah mereka pindah, mereka kembali mendapatkan ikan yang besar dan didalamnya terdapat mutiara yang indah. Mereka akhirnya berpikir, rezeki itu Allah yang menetukan, baik dengan jalan apaun kita berupaya mendapatkannya. Jadi lebih baik memilih jalan yang halal dan terus berdoa supaya rezeki kita dimudahkan ketimbang kita memilih jalan yang diharamkan oleh Allah SWT.

Dari dua cerita diatas aku jadi berpikir, sebenernya ga ada gunanya kita mecari rezeki dengan cara yang haram. Karena cepat atau lambat apa yang memang menjadi rezeki kita InsyaAllah enggak akan ke mana mana. Cuma aja, mungkin saat ini (dan mungkin juga aku termasuk), orang tidak sabar untuk menantikan rezekinya, lebih menyukai cara yang cepat dan enggak mau bersusah payah. Ya Allah, lindunglah kami dari segala sesuatu yang Engaku tidak sukai dan senantiasa tuntunlah kami untuk dapat selalu melakukan apa yang Engkau perintahkan, berikanlah rahmat dan rizki yang halal dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang sabar. Amin ya robbal alamin.

posted by Spellcaster at 9:06 PM





0 Comments:



Post a Comment





   
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
 

Previous Posts
Bank Emosional
--------
Bismillahirohmannirrohim
--------
Versi 3 Release!
--------
Selamat Datang di Dunia 3G
--------
Pendahuluan
--------
Udah lama ya ...
--------
3x3 Eyes
--------
mood buat ngoding
--------
surgaku yang baru
--------
kartuHALO Bebas Bicara
--------

Archives
03/01/2006 - 04/01/2006
04/01/2006 - 05/01/2006
05/01/2006 - 06/01/2006
06/01/2006 - 07/01/2006
08/01/2006 - 09/01/2006
09/01/2006 - 10/01/2006
10/01/2006 - 11/01/2006
11/01/2006 - 12/01/2006
12/01/2006 - 01/01/2007
01/01/2007 - 02/01/2007
02/01/2007 - 03/01/2007
03/01/2007 - 04/01/2007
05/01/2007 - 06/01/2007
06/01/2007 - 07/01/2007
02/01/2008 - 03/01/2008
05/01/2008 - 06/01/2008