Thursday, April 27, 2006
1:05 PM
Mimpi terindah sebelum mati
RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.
Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.
NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.
Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?
Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.
"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku.
"Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."
Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.
Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.
Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.
Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.
Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"
"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."
"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"
Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.
"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.
"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"
Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.
AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.
Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.
Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?
Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.
Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.
Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. ***
Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005
Cerpen Maya Wulan
posted by Spellcaster
at
1:05 PM
0 comments
Wednesday, April 26, 2006
11:54 AM
dari semanggi ke wirausaha
Senin malem kemaren, iseng aja pengen ngajakin temenku makan. Kebetulan juga hari itu juga lagi ga jemput dinda, jadi ya bisa jalan ma temen lah ..:D (hehehe.. kesannya kok dikekang banget, ya enggak lah, ngejemput kan tanda perhatian..~halah).
Rencananya si mau makan di semanggi, itu pun memutuskannya sulit banget, abisnya setiap ditanya masing2 dari kami menjawab "terserah aja".. dan jawabannya sama semua. Pun, setelah turun menuju parkiran ternyata ujan rintik2, tapi belum membuayarkan niat kami untuk tetep makan di semanggi.
Niat makan pun masih membara sampai akhirnya mulai sedikit demi sedikit niat itu pudar, yaitu ketika ternyata temenku bilang kalo dia lupa bawa STNK. Soalnya gimana bisa keluar tempat parkir kalo ga nunjukkin STNK. akhirnya sedikit ragu2 juga kepastian jadi ga makan. Akhirnya kita coba untuk melobi satpam supaya bisa keluar, dan ternyata berhasil!!!! hehehe. So jadi pada semangat lagi, yoshh.. jadi deh makan di semanggi. Tapi ketika motor temenku lagi berhenti di depan parkiran buat nungguin motor temenku yang satu lagi, tiba2 temenku kepikiran "tapi khan kalo masuk semanggi nanti pas keluarnya butuh STNK juga ya.. "... Dan akhirnya pemikiran tersebut berhasil membatalkan niat kami untuk makan di semanggi, padahal hujan dan harus ngelobi satpam aja ga meruntuhkan niat buat makan disana..:P. Akhirnya jadilah kami makan di warteg samping parkiran. Ga apa2 deh ga makan di semanggi, yang penting khan makan barengnya.
Sambil makan, biasalah, pasti sambil ngobrol. Dari berbagai obrolan malam itu, yang membuat aku tertarik adalah rencana dua orang temenku yang ingin berwirausaha. kebetulan mereka berdua juga sekarang lagi ikutan training tentang kewirausahaan yang diadakan di menpora. Sebut aja temenku ini si D dan si V.
Si D ini selama yang kukenal, memang dari dulu sangat berobsesi untuk berwirausaha. Kalo menurutku semangat dia itu hebat, dan dia sangat pantes jadi pengusaha sukses. Bahkan menurutku dia itu ga pantes kerja sebagai karyawan di sini, dan lebih pentes kalo punya usaha sendiri kalo melihat semangatnya berwirausaha. Cuma aja, aku ga tau kok sampe sekarang dia belum jadi pengusaha. Jadi inget dulu coba pernah berwirausaha bareng dia dan bareng temenku juga si O. Dulu semangat kami berkobar kobar, bahkan usahanya sudah hampir jalan (untuk tahap marketing sudah jalan). Usahanya mo bikin agen untuk mengajar privat anak SD-SMU. Sayangnya kurangnya kesempatan dan waktu untuk berkonsentrasi ke usaha itu secara penuh membuat usaha itu akhirnya gagal juga. Aku juga pernah mecoba bareng si H, B dan P untuk membuat usaha software house. Tapi sekali lagi karena aku kurang bisa membagi waktu dan konsentrasiku, membuatku kembali gagal dalam usaha itu. Aku salut sama si B dan P yang saat ini masih berjuang menjalankan usaha tersebut. Bravo buat kalian, aku yakin kalian akan sukses besar..
Kadang aku berpikir, jangan-jangan aku emang ga punya bakat berwirausaha kali ya, habisnya susah banget berkonsentarsi secara penuh pada usaha tersebut sedangkan aku juga harus bekerja untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidupku juga. Seandainya hidup ini miliku sendiri dan ga ada beban tanggungan, pengen rasanya aku berhenti kerja dan lebih berkonsentrasi ke wirausaha, tapi ga bisa begitu juga.
Duh, ngelantur kemana-mana nih... kembali ke temenku, kali ini si V. Aku belom lama kenal dia si, tapi dia bilang bahwa dia punya semangat besar untuk berwirausaha dan kalo aku baca di blognya, semangat dia sedang bersemi kembali. Apalagi dia sudah tertarik pada enterpreneur sejak dia masih kuliah. So sepertinya dia memanganggap momen kali ini adalah momen yang paling tepat.
Kembali lagi ke obrolan tentang wirausaha. Tercetus beberapa ide, dan akhirnya terkonsentrasi pada satu ide. Aku ga bisa bilang detailnya ide itu (karena itu idenya si D), tapi intinya berkaitan dengan fotographi dan pencetakan foto. Sangking serunya sampai semua sepakat akan mencoba menjalankan usaha tersebut (hehehe.. semangat berkobar!!). Aku enggak tau apakah aku termasuk dalam usaha tersebut atau tidak (Aku yakin, si D trauma kalo mo ngajak aku ikutan, pasti gagal lagi hehehe) dan aku juga ga perduli. Walaupun aku mengakui aku sangat tertarik, tapi dengan melihat mereka pun rasanya juga senang. Aku berharap kali ini ini si D benar2 bisa mewujudkan obsesinya sebagai business man, juga si V. Aku juga mesti realistis, saat ini aku sedang mempersiapkan "..."ku dan itu juga banyak menyita waktu selain pekerjaan rutinku. Jadi seandainya aku tak termasuk pun aku bisa memaklumi kenapa seharusnya aku enggak termasuk dalam tim ini. But overall, aku mendukung kalian berdua man. Ayo, buktikan kalo kalian bisa, apalagi itu ide yang bagus. Buat D belajar dari pelangalaman ya, jangan mengulangi kesalahan yang sama... :)
Duh, trus bingung gimana mo mengakhiri ceritanya ni, ya udah pokoknya begitulah semangat berwirausaha mereka. Aku doakan semoga berhasil ya .. :)
posted by Spellcaster
at
11:54 AM
0 comments
Monday, April 24, 2006
5:05 PM
dari Medan
2 hari kemarin aku ke jalan ke Medan. Biasalah, tes call ..:P. Ini kali kedua aku kesana, tapi berbeda dengan pertama kali datang kesana. Kali ini ini ga begitu spesial dan cenderung malah membosankan. Bang Daniel yang dulu ngajakin jalan2 muter2 Medan, kemaren ada acara dengan keluarganya. Mba Sheila yang juga biasanya nemenin ngetes n makan malam, kemaren lagi di Kalimantan dan sepulangnya dari sana langsung sakit. Alhasil aku jalan2 sendirian deh di Medan. Lagian emang ga sempet jalan2 si, abis nomor yang di tes kali ini banyak, dan juga ke sini khan bukan buat jalan2..:D
Yang bingungnya pas mikirin bawain oleh2 pesenan temen2 (bolu meranti). Di sana itu tempat jualnya cuma satu2nya dan jauh pula dari hotel. Kalo sampe ga bawa bisa diomelin se ruangan deh ..:P. Alhamdulillah ternyata ada ob (office boy) kantor yang mo bantuin buat beliin, dianterin pula ke hotel..:). Buat yang suka bolu meranti, dateng aja ke kos maksimum 2 hari setelah postingan ini di publish ya, kalo ga ya bakal keabisan ..:D
Buat ibu, maaf ya... ternyata bukan jus atau sirup jambu klutuk ya... tapi kalo manisan, bukannya di Jakarta banyak? lain kali aja ya bu ..;D
posted by Spellcaster
at
5:05 PM
0 comments
Thursday, April 20, 2006
2:37 PM
Cobalah Untuk Setia
Apalah maumu kasih
Kau pilih diriku didalam hidupmu
Nyatanya kulihat kini
Tak bisa kau coba untuk setia
Sudah cukuplah sudah
Ku memberikan waktu
Kau selalu tak bisa
Mencoba untuk setia
Reff :
Yang selalu kuinginkan
Yang selalu kunanti
Ku coba untuk mengerti
Apalah arti mencinta
Dan harus kau sadari
Bila ingin bersamaku
Jangan coba kau ingkari
Cobalah untuk setia
Bridge :
Masihkah aku di inginkan….
Masihkah aku di dambakan…
Masih ada waktu untukmu…
Bersamamu akankah kujalani hidup….
Kemaren pas lagi nungguin dinda pulang kantor, dengerin lagu ini .. Tiba2 kok jadi suka aja ..:P
Jadi teringat dulu pas aku sempet berpikiran tuk pindah ke lain hati, tertarik dengan yang lain. Tapi dinda dengan sabar dan tidak pernah menyerah, selalu meyakinkan aku bahwa memang dialah yang terbaik. Bahkan ketika aku sadar kalau aku itu salah, dia selalu dengan hati terbuka memaafkan aku dan mau menerima aku lagi. Terima kasih ya dinda, teruslah disampingku untuk menemaniku menghadapi semua godaan dan tantangan dalam hidup ini selamanya ya.
posted by Spellcaster
at
2:37 PM
5 comments
Wednesday, April 19, 2006
12:55 PM
Teman adalah Hadiah
Teman adalah hadiah dari yang di atas buat kita.
Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.
Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.
Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll.
Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.
Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka "takut air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll. Itulah cara mereka mempertahankan diri.
Mereka akan bilang:
"Menari itu tidak menarik"
"Tidak ada yang cocok denganku"
"Teman-temanku sudah lulus semua"
"Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku"
"Kisah hidupku membosankan"
Mereka tidak akan bilang:
"Aku tidak bisa menari"
"Aku membutuhkan kamu denganku"
"Aku kesepian"
"Aku butuh diterima"
"Aku ingin didengarkan"
Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.
Oleh: Tidak Diketahui
posted by Spellcaster
at
12:55 PM
0 comments
Tuesday, April 18, 2006
1:43 PM
report selama dua minggu
Dah lama ni ga nulis blog .. kayaknya udah 2 minggu ya? abis minggu2 kemaren kerjaan banyak banget plus lagi ga mood nulis, so ya jadi ga nulis deh..:)
2 minggu ini ga banyak yang terjadi kok, tapi tetep aja ada kejadian2 baik itu yang menyedihkan maupun yang menyenangkan..
So, kejadian yang menurutku menyenangkan :
Beratku nambah 4 kilo, Alhamdulillah .. tembus juga 50 Kg
Dua minggu lalu kakakku dateng ke Jakarta, so jadi ada temen deh di kos (maklum, selama ini kesepian ..:D )
Alhamdulillah kakakku udah dapet panggilan kerja sebelum wisudanya ..:)
Dapet HP Baru ..:) K600i, lumayan buat nambah2 koleksi.
Jalan2 bareng temen2 ke ambassador, biarpun pas perginya sempet kesasar, eh enggak ding cuma salah belok aja khan dik? .. :P, trus ditraktir makan ..:)
Kerumah dinda, soalnya udah lama ga kerumah ..:)
Kejadian yang ga enaknya :
- Udah 2 minggu ini ga ada maen bola gara2 ga ada orang.
- Temenku Baya dan Pandega dapet musibah. Tabah ya guys!!, pasti segera bangkit lagi ..:)
- Kakakku hari ini pulang lagi ke Semarang, jadi kesepian lagi deh
- MU seri lawan Sunderland, makin susah aja jadi juara ..:(
- Ini yang paling sedih, tangan dinda luka tergores ketika cuci piring, meskipun cuma tergores tapi parah banget, sampai 4 jahitan dan banyak darah yang keluar. Alhamdulillah pertolongannya enggak terlambat. Buat Dinda, tabah ya dan cepet sembuh ..:)
So, mudah mudahan untuk kedepannya yang terjadi selalu kejadian yang menyenangkan ya .. :)
posted by Spellcaster
at
1:43 PM
0 comments